Minggu, 09 Desember 2012

Presiden SBY Berikan Satyalencana Pendidikan Untuk 15 Guru Sekolah dan Madrasah


Jakarta (Pinmas)—Sebanyak 15 guru sekolah dan madrasah mendapat penghargaan Satyalencana Pendidikan dalam acara puncak peringatan Hari Guru Nasional 2012 dan hari ulang tahun ke-67 Persatuan Guru Republik Indonesia di Sentul International Convention Center (SIIC) Bogor, Selasa (4/12)



Penghargaan tersebut diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada para guru. Ke-15 guru itu adalah Iis Sumyati Shalihat (Bandung), Zahra (Pasuruan), Theresia Sri Rahayu (Salatiga), Supriono (Mamuju), Nuraidah (DKI Jakarta), Lilik Fathku Diniyah (Magelang), Fauziah (Medan), Irene Puspita (Subang), Marjohan (Batusangkar), Slamet Widodo (Wonogiri), Ponimin (Klaten), Ejon Sujana (Cimahi), Isdarmoko (Bantul), Ahmad Ishom (Semarang), dan Riadi Nugroho (Pati).

Selain pemberian penghargaan Satyalencana Pendidikan, penghargaan juga diberikan kepada pemenang lomba forum ilmiah guru tingkat nasional yang diberikan kepada 12 guru, pemenang lomba kreatifitas guru yang diberikan kepada tujuh guru, dan pemenang guru berprestasi yang diberikan kepada tiga guru.

Acara puncak peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI juga dihadiri ibu negara Hj. Ani Yudhoyono, Ketua DPD RI Irman Gusman, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo serta ribuan guru dari berbagai wilayah di tanah air.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan guru sebagai pendidik tidak boleh diseret-seret dalam ajang kompetisi politik untuk suksesi kepemimpinan. “Itu tidak boleh terjadi, saya ingatkan pada siapa pun,” tandasnya.

Menurut presiden, pemimpin daerah dipilih untuk berbuat adil. Bukan menekan profesi atau golongan tertentu, terutama para guru. “Tidak boleh membawa guru ke arena politik. Tidak boleh membawa birokrat ke arena politik,” imbuhnya.

Presiden juga menegaskan, para guru harus bebas dari politik praktis. Jangan sampai kepentingan politik merusak profesi mulia guru sebagai pengajar. Itu etika politik,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua PGRI Sulistyo, di dalam sambutannya mengungkap bahwa para guru di daerah kerap jadi korban pasca pemilu kada. Tekanan dan dampak dari kompetisi politik itu, dikuatirkan berpengaruh terhadap kinerja guru selaku pendidik.

“Di dalam era otonomi daerah ini, guru masih banyak yang menjadi korban politik pasca pilkada. Mohon itu dievaluasi dengan sungguh-sungguh sebelum terlalu mengganggu kinerja guru,” ungkap Sulistyo tanpa merinci bentuk konkrit dari korban politik yang dia maksud.
Menteri Pendidikan Muhammad Nuh mengatakan tema besar peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI tahun ini adalah mengenai profesionalitas guru. “Kalau gurunya profesional maka kualitas pendidikan juga akan semakin meningkat. Kalau kualitas pendidikan meningkat nanti ujungnya pengangguran juga kecil,” kata Nuh.

Menurut Nuh, kualitas pendidikan juga terkait dengan penciptaan lapangan pekerjaan. Lapangan kerja yang tersedia juga harus diisi dengan tenaga yang berkualitas. “Peran guru di sini yang luar biasa,” ujarnya. Saat ini tercatat 3.687.676 orang guru termasuk guru madrasah sebanyak 762.000 orang, baik guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun bukan PNS pada berbagai tingkat pendidikan. (ks)


Sumber : Kemenag 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar